
Batusangkar — UIN Mahmud Yunus Batusangkar menerima kunjungan intelektual diaspora Minangkabau dari Negeri Sembilan Malaysia dalam rangkaian program “Pulang Ka Ranah: Intelektual Negeri Sembilan”, Selasa (8/9/2026). Pertemuan berlangsung di Ruang Teater GKT Lantai IV, menjadi ajang silaturahmi sekaligus dialog untuk memperkuat hubungan intelektual, kebudayaan, dan kerja sama antara ranah dan rantau.
Rombongan diaspora disambut langsung Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar Prof. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D., bersama Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Prof. Dr. Suswati Hendriani, M.Pd., M.Pd, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. H. Eficandra, S.Ag., M.Ag, , Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama Dr. Irman, M.Pd., Kepala Biro UAPK, Dr. H. Yasrizal, MA, serta sejumlah pejabat dan sivitas akademika UIN MY Batusangkar lainnya.
Program yang digagas Minang Diaspora Network-Global tersebut menghadirkan sejumlah intelektual Minangkabau yang bermukim dan berkiprah di Malaysia. Kegiatan berlangsung 7–14 September 2026 dengan sejumlah agenda kunjungan budaya dan sejarah Minangkabau di Sumatera Barat.
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Delmus menyampaikan selamat datang kepada rombongan diaspora. Menurutnya, pertemuan tersebut memiliki arti penting karena mempertemukan kembali ranah dan rantau dalam ruang akademik dan kebudayaan.
“Pertemuan ini sangat penting bagi ranah dan rantau. Tentu saja ini juga sangat penting bagi UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan Kabupaten Tanah Datar sebagai Luhak Nan Tuo,” ujar Prof. Delmus.
Ia menilai diaspora Minangkabau bukan sekadar komunitas perantauan, tetapi bagian penting dari jejaring intelektual, sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang dapat dihubungkan kembali dengan kampung halaman. Karena itu, kampus terbuka membangun kerja sama yang memberi manfaat nyata bagi kedua belah pihak.
Program tersebut menghadirkan sejumlah diaspora intelektual Minangkabau Malaysia, di antaranya Prof. Madya Dr. Norailis Ab Wahab, Prof. Dato’ Dr. Mohammad Hj Alias, Dr. Mohd Yuszaidy Mohd Yusoff, Prof. Madya Dr. Nur Kareelawati Binti Abd Karim, Datin Paduka Siti Hajar Raihan, Dr. Nor Azrul Bin Mohd Zin, En Mohd Yatim Dolir, serta Muhammad Thafiq Umair Saiful Bahir.
Dari pihak diaspora, Dirwan Ahmad Darwis, Ph.D. (Deputy President MDN-Global) menyampaikan bahwa diaspora memiliki peluang untuk berkontribusi lebih konkret bagi pendidikan di ranah, salah satunya melalui penyaluran beasiswa. Selain itu, kerja sama dapat dikembangkan melalui konsep connecting people, pertukaran pelajar, penguatan jejaring akademik, hingga kolaborasi penelitian dan kebudayaan.
“Diaspora tidak hanya datang untuk bernostalgia dengan kampung halaman, tetapi juga bagaimana hubungan rantau dengan ranah dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” demikian gagasan yang disampaikan Dirwan.
Pertemuan tersebut juga membuka gagasan pengembangan kerja sama yang lebih luas. UIN MY Batusangkar dinilai memiliki posisi strategis karena berada di Tanah Datar, kawasan yang menjadi salah satu pusat penting sejarah dan kebudayaan Minangkabau.
Dalam dialog juga muncul gagasan agar UIN MY Batusangkar mempertimbangkan pengembangan Program Studi Sejarah. Program tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat kajian sejarah yang kemudian beriringan dengan pengembangan budaya dan bahasa Minangkabau. Gagasan ini menjadi relevan karena Minangkabau tidak hanya memiliki warisan material, tetapi juga sistem pengetahuan, bahasa, nilai, tradisi, dan cara pandang yang diwariskan lintas generasi dari ranah hingga rantau.
Terakhir Dirwan mengucapkan terima kasih kepada UIN MY Batusangkar atas waktu, sambutan, dan hospitality yang diberikan kepada rombongan diaspora.
Acara dilanjutkan dengan materi dan diskusi yang dipimpin Irwan, M.Pd., Malin Basa, berlangsung dengan pendekatan yang menarik dan dekat dengan pengalaman kebudayaan Minangkabau. Dalam diskusi tersebut dibicarakan sejumlah ciri yang melekat dalam struktur sosial Minangkabau, antara lain kampuang, suku, mamak, ninik mamak, ulayat, ranji keturunan, dan agama.
Menariknya, pembicaraan juga masuk pada cara orang Minangkabau memahami waktu dan ukuran dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tradisi bahasa Minangkabau, dikenal ungkapan seperti saketek, sangenek, dan sapinjik sebagai bentuk pengukuran yang bersifat kontekstual dan tidak selalu mengikuti ukuran waktu maupun kuantifikasi modern.
Begitu pula dengan karakter komunikasi orang Minangkabau yang kaya dengan ungkapan tidak langsung. Misalnya, ungkapan “minta jambu ciek” tidak selalu dimaknai secara literal sebagai permintaan satu buah jambu, tetapi menjadi bagian dari cara berkomunikasi yang hidup dalam budaya masyarakat.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Minangkabau tidak cukup hanya dipahami sebagai tradisi masa lalu, tetapi perlu dikaji secara akademik agar makna, nilai, dan relevansinya dapat terus dibaca oleh generasi baru.
Dalam konteks yang lebih luas, pembicaraan mengenai kebudayaan juga berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.
Karena itu, pertemuan diaspora Minangkabau di UIN MY Batusangkar memiliki arti strategis. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya dialog, tetapi dapat menjadi ruang akademik untuk mempertemukan pengetahuan ranah dengan pengalaman rantau.
Bagi UIN MY Batusangkar, pertemuan ini membuka peluang untuk membangun jejaring yang lebih luas dengan diaspora Minangkabau di Malaysia. Ranah menyediakan akar, rantau memperluas jejaring; kampus mempertemukan keduanya melalui pengetahuan dan kerja sama. (hospiburda)