
Batusangkar — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Islam Tingkat Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI (9–10/2/2026). Rakornas tersebut digelar secara nasional dan diikuti para pimpinan perguruan tinggi secara daring.
Rakornas Pendidikan Islam ini menjadi forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan penguatan pendidikan Islam, khususnya pada jenjang pendidikan tinggi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kemenag RI Prof. Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Amin Suyitno, para direktur di lingkungan Ditjen Pendis, serta para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pimpinan Kopertais, Ma’had Aly, dan perwakilan perguruan tinggi umum.
Dalam forum tersebut, salah satu isu utama yang mengemuka adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) pendidikan Islam, baik pada level perguruan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah di lingkungan madrasah. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Muhammad Ishom, yang turut hadir dalam Rakornas.
“Sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam peningkatan mutu pendidikan Islam yang berkelanjutan,” ujar Prof. Ishom dalam paparannya.
Pembahasan SDM mencakup dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi, guru dan tenaga kependidikan madrasah, serta peserta didik madrasah. Data Ditjen Pendis menunjukkan masih adanya tantangan besar, di antaranya 25.663 guru madrasah dan RA yang belum berkualifikasi S1, serta 424.398 guru madrasah dan RA yang belum tersertifikasi sebagai guru profesional.
Kondisi tersebut, menurut Prof. Ishom, menuntut keterlibatan aktif perguruan tinggi, khususnya PTKIN dan lembaga penyelenggara pendidikan tenaga kependidikan, dalam mempercepat penyelesaian pendidikan S1 guru madrasah dan mendorong percepatan sertifikasi.
“Perguruan tinggi diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan kompetensi akademik, pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru,” tegasnya.
Selain isu SDM, Rakornas juga menyoroti tantangan dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi lulusan madrasah. Secara nasional, jumlah pendaftar PTKIN dari lulusan SMA dan SMK masih lebih besar dibandingkan lulusan Madrasah Aliyah (MA/MAK). Hal ini dipengaruhi oleh proporsi MA/MAK yang hanya sekitar 12 persen dari total SMA/SMK di Indonesia.
“Realitas ini berdampak pada keterbatasan basis calon mahasiswa dari madrasah. Karena itu, perguruan tinggi didorong untuk merumuskan kebijakan afirmatif, memperkuat sosialisasi, serta meningkatkan pembinaan akademik agar lulusan madrasah memiliki akses dan daya saing yang setara,” jelas Prof. Ishom.
Menanggapi isu-isu strategis tersebut, keikutsertaan Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar dalam Rakornas ini menegaskan komitmen UIN Mahmud Yunus Batusangkar untuk terus berperan aktif dalam mendukung kebijakan nasional pendidikan Islam, khususnya dalam penguatan mutu SDM, peningkatan akses pendidikan tinggi, serta pembangunan ekosistem pendidikan Islam yang inklusif dan berdaya saing nasional maupun global. (hospiburda)