Pilih Laman

Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd. Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN MY Batusangkar, Tawarkan Integrasi Konseling Islam dan Stoikisme untuk Mengatasi Krisis Emosi di Era Digital

oleh | Jul 20, 2026

27

Batusangkar – Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar kembali mengukuhkan Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar Bidang Bimbingan dan Konseling Islam dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan di Auditorium Kampus II UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Pada momentum akademik tersebut, Prof. Rahmad menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pendekatan Stoikisme dan Konseling Islam dalam Mengatasi Gangguan Emosi Individu di Era Digital”, sebuah gagasan yang menawarkan model konseling integratif untuk menjawab tantangan kesehatan mental masyarakat kontemporer.

Sebelum menyampaikan orasi ilmiah, Prof. Rahmad Hidayat diperkenalkan sebagai akademisi yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan pendidikan Islam, kepemimpinan perguruan tinggi, serta ilmu bimbingan dan konseling Islam.

Lahir di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 11 Desember 1971, Prof. Rahmad menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Sawahlunto dan Solok sebelum melanjutkan studi pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang. Ia kemudian menyelesaikan dua program magister, yakni Magister Pendidikan Islam di IAIN Imam Bonjol Padang dan Magister Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Padang. Gelar doktor diraihnya pada Program Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2016. Selain pendidikan formal, ia juga mengikuti berbagai pelatihan profesional, di antaranya lisensi Tes Psikologi, Training of Trainers Moderasi Beragama, Manajemen Perguruan Tinggi, Kurikulum Pendidikan Islam, serta Bimbingan dan Konseling Islam.

Pengalaman kepemimpinannya juga sangat luas. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling STAIN Curup, Ketua Jurusan Tarbiyah, Pembantu Ketua I Bidang Akademik, Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan, Ketua STAIN Curup, hingga menjadi Rektor IAIN Curup periode 2018–2022. Sejak tahun 2022, Prof. Rahmad mengabdikan diri di UIN Mahmud Yunus Batusangkar sebagai pengelola Program Doktor.

Sebagai akademisi produktif, Prof. Rahmad telah menghasilkan sejumlah buku, antara lain Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling, Psikologi Islam, Moderasi Beragama di Indonesia, Konsep Diri Pancasila, Psikologi Agama, dan berbagai karya lainnya. Ia juga aktif mempublikasikan hasil penelitian pada jurnal nasional maupun internasional yang membahas pendidikan Islam, moderasi beragama, psikologi, hingga cyber counseling dan media digital.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Rahmad mengawali pembahasan dengan memotret paradoks kehidupan manusia modern. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, media sosial, dan kecerdasan buatan telah membawa manusia pada kemudahan berkomunikasi, namun pada saat yang sama justru melahirkan krisis kemanusiaan yang semakin kompleks.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat digital saat ini semakin mudah terhubung secara virtual, tetapi semakin jauh secara psikologis, emosional, dan sosial. Budaya media sosial yang sarat pencitraan, validasi digital, dan kompetisi eksistensi telah membentuk individu yang aktif di ruang maya, tetapi kehilangan kedalaman empati dan makna hubungan antarmanusia. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada meningkatnya kecemasan, kesepian, gangguan psikologis, hingga krisis spiritual masyarakat modern.

Prof. Rahmad mengutip berbagai fenomena kontemporer, mulai dari meningkatnya kasus depresi, kecanduan media sosial, cyberbullying, Fear of Missing Out (FOMO), hingga tekanan psikologis akibat budaya komparasi digital. Menurutnya, era digital tidak hanya mengubah pola komunikasi manusia, tetapi juga mengubah lanskap psikologis generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh bersama teknologi digital.

Dalam konteks tersebut, Prof. Rahmad mengangkat kembali Stoikisme, filsafat Yunani-Romawi kuno yang beberapa tahun terakhir kembali populer sebagai panduan membangun ketahanan mental. Ia menjelaskan bahwa Stoikisme mengajarkan manusia untuk hidup berdasarkan kebajikan melalui tiga prinsip utama, yakni Amor Fati (menerima takdir), Dichotomy of Control (membedakan hal-hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali), serta hidup selaras dengan akal dan hukum alam. Ketiga prinsip tersebut diyakini mampu membangun resiliensi dan ketenangan batin.

Namun demikian, Prof. Rahmad menilai bahwa penerapan Stoikisme di era digital sering mengalami penyederhanaan yang keliru. Banyak orang memahami Stoikisme hanya sebagai sikap menekan emosi, bersikap apatis terhadap persoalan sosial, atau sekadar mengikuti tren kutipan motivasi di media sosial tanpa transformasi kepribadian yang mendalam.

Menurutnya, krisis Stoikisme terjadi ketika individu menggunakan filsafat tersebut hanya sebagai mekanisme pertahanan diri yang dangkal sehingga kehilangan dimensi spiritual. Akibatnya, ketika menghadapi krisis kehidupan yang berat, ketahanan mental yang hanya bertumpu pada rasionalitas menjadi mudah rapuh.

Atas dasar itulah, Prof. Rahmad menawarkan pendekatan Konseling Islam sebagai penyempurna prinsip-prinsip Stoikisme. Ia menegaskan bahwa Islam memiliki konsep-konsep yang sejalan dengan Stoikisme, tetapi sekaligus memberikan dimensi transendental yang lebih utuh.

Ia menjelaskan bahwa konsep Amor Fati memiliki kesesuaian dengan ajaran qadha dan qadar, sedangkan prinsip Dichotomy of Control dapat diperkaya melalui konsep ikhtiar dan tawakal. Demikian pula pengendalian emosi dalam Stoikisme dipandang selaras dengan ajaran Islam tentang jihad melawan hawa nafsu, kesabaran, dan pengendalian diri sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, ketenangan batin dalam Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan rasio, tetapi juga pada kedekatan kepada Allah SWT yang melahirkan thuma’ninah atau ketenteraman jiwa.

Lebih lanjut, Prof. Rahmad memperkenalkan model terapi Konseling Islam yang dikembangkannya melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah tafakkur dan muhasabah, yakni membantu individu mengevaluasi pola pikir dan melepaskan ketergantungan terhadap validasi media sosial. Tahap kedua adalah reframing melalui konsep ikhtiar dan tawakal, sehingga individu mampu membedakan antara usaha yang harus dilakukan dan hasil yang sepenuhnya menjadi kehendak Allah. Tahap ketiga ialah tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa melalui ibadah, dzikir, doa, serta pembiasaan sabar dan syukur aktif yang mampu memperkuat kesehatan mental secara spiritual maupun psikologis.

Menurut Prof. Rahmad, pendekatan tersebut tidak hanya membantu individu mengendalikan emosi negatif, tetapi juga membangun ketahanan psikologis yang lebih kokoh dalam menghadapi tekanan kehidupan digital. Konseling Islam, katanya, tidak menolak prinsip-prinsip baik dalam Stoikisme, melainkan mengadopsi, meluruskan, dan menyempurnakannya melalui fondasi tauhid, tawakal, dan nilai-nilai spiritual Islam.

Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Rahmad menegaskan bahwa tantangan terbesar masyarakat modern bukan semata-mata kemajuan teknologi, melainkan bagaimana membangun manusia yang tetap sehat secara mental, matang secara emosional, dan kuat secara spiritual di tengah derasnya arus digitalisasi.

Ia menyimpulkan bahwa gangguan emosi di era digital tidak cukup diatasi melalui pendekatan rasional semata. Integrasi antara Stoikisme dan Konseling Islam, menurutnya, mampu mentransformasikan konsep Dichotomy of Control menjadi ikhtiar dan tawakal, serta mengubah Amor Fati menjadi rida kepada ketentuan Allah, sehingga individu memperoleh ketenangan jiwa yang hakiki sekaligus terbebas dari ketergantungan terhadap validasi dunia maya. Melalui pengukuhan Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar Bidang Bimbingan dan Konseling Islam, UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pemikiran akademik yang responsif terhadap tantangan zaman. Gagasan integrasi Konseling Islam dan Stoikisme yang ditawarkan Prof. Rahmad diharapkan menjadi kontribusi penting bagi pengembangan ilmu bimbingan dan konseling Islam sekaligus menjadi solusi alternatif dalam memperkuat kesehatan mental masyarakat di era digital. (hospiburda)