Pilih Laman

Prof. Dr. H. Asmendri, S.Ag., M.Pd Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN MY Batusangkar, Tawarkan Rekonstruksi Manajemen Pendidikan Transformatif Berbasis Nilai Surau

oleh | Jul 17, 2026

22

Batusangkar – UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menambah jajaran guru besar dengan dikukuhkannya Prof. Dr. H. Asmendri, S.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar dalam Bidang/Rumpun  Ilmu Manajemen Pendidikan. Pengukuhan yang berlangsung di Auditorium UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rabu (8/7/2026) lalu, menjadi momentum penting bagi pengembangan keilmuan manajemen pendidikan di Indonesia.

Prof. Asmendri lahir di Tanjung Tangah, Mungo, Kabupaten Limapuluh Kota pada 25 Agustus 1970. Saat ini beliau mengemban amanah sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Mahmud Yunus Batusangkar serta mengajar pada Program Studi Sarjana dan Magister Manajemen Pendidikan Islam. Bidang kepakarannya meliputi manajemen dan kepemimpinan pendidikan, dengan latar belakang pendidikan doktor Ilmu Pendidikan dari Universitas Negeri Padang.

Karier akademiknya diperkuat dengan pengalaman internasional sebagai Visiting Scholar di Ohio State University, Amerika Serikat (2008–2009), sekaligus mengikuti pelatihan Research Methodology dan Educational Management and Leadership. Selain aktif sebagai dosen, Prof. Asmendri dipercaya menjadi Asesor Nasional BKD SISTER DIKTI, Reviewer Nasional Litapdimas Kementerian Agama RI, Reviewer MoRA The AIR Fund–LPDP, Penilai Nasional Buku Pendidikan Agama Islam, serta editor dan reviewer berbagai jurnal ilmiah nasional.

Produktivitas akademiknya juga tercermin dari puluhan publikasi pada jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus maupun jurnal nasional terakreditasi SINTA. Di samping itu, ia telah menghasilkan sejumlah buku ber-ISBN di antaranya Manajemen Pendidikan Transformatif, Supervisi Pendidikan Transformatif, Perencanaan Pendidikan Transformatif: Menuju Sekolah Masa Depan, serta berbagai karya ilmiah yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Rekonstruksi Manajemen Pendidikan Transformatif di Era Digital: Integrasi Strategis Kepemimpinan, Supervisi, dan Nilai Surau Berbasis ABS-SBK”, Prof. Asmendri menegaskan bahwa pengukuhan sebagai guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan amanah moral untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan pendidikan di era disrupsi digital. Menurutnya, transformasi pendidikan harus tetap berpijak pada spiritualitas serta kearifan lokal Minangkabau melalui filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ia menjelaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Internet of Things telah mengubah wajah pendidikan secara fundamental. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan tidak lagi cukup menjalankan fungsi administratif, tetapi harus mampu membangun sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai moral.

Menurut Prof. Asmendri, Sumatera Barat memiliki modal sosial yang sangat kuat melalui sistem pendidikan surau. Surau, katanya, tidak hanya dipahami sebagai bangunan fisik, tetapi merupakan model manajemen pendidikan yang mampu mengintegrasikan modal intelektual, modal spiritual, dan modal sosial secara harmonis. Nilai-nilai egalitarianisme, kontekstualitas melalui filosofi alam takambang jadi guru, serta kemandirian menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan masa depan.

Dalam paparannya, ia menawarkan paradigma baru mengenai perencanaan pendidikan transformatif. Perencanaan pendidikan, menurutnya, harus bersifat visioner, adaptif, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat, termasuk Tigo Tungku Sajarangan yang terdiri atas alim ulama, cadiak pandai, dan niniak mamak. Sinergi tersebut dinilai penting agar kebijakan pendidikan mampu menjawab tantangan global sekaligus mempertahankan karakter lokal.

Prof. Asmendri juga mengkritisi paradigma supervisi pendidikan yang selama ini lebih menonjolkan pendekatan birokratis. Ia menawarkan model supervisi yang bersifat humanis dan kolaboratif, di mana supervisor berfungsi sebagai mitra pemberdayaan bagi guru dan tenaga kependidikan. Pendekatan tersebut diyakini mampu membangun budaya profesional yang lebih produktif dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Pada aspek kepemimpinan, ia memaparkan hasil kajiannya mengenai praktik kepemimpinan transformasional di Rumah Tahfidz Qur’an Surau Lakuak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perpaduan antara kepemimpinan modern, pemanfaatan teknologi digital, dan nilai-nilai religius lokal mampu menghasilkan lembaga pendidikan yang adaptif, inovatif, sekaligus tetap berakar pada budaya masyarakat.

Mengakhiri orasinya, Prof. Asmendri menegaskan bahwa rekonstruksi manajemen pendidikan transformatif merupakan upaya mengintegrasikan perencanaan yang visioner, supervisi yang humanis, serta kepemimpinan yang akuntabel dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia berharap paradigma tersebut mampu melahirkan lembaga pendidikan Islam yang unggul dan menjadi pusat pembangunan peradaban di era digital.

“Gelar Guru Besar ini adalah komitmen untuk terus mewakafkan dedikasi dalam melahirkan model teoretis dan aplikasi praktis yang menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat keunggulan peradaban. Dari rahim pendidikan Sumatera Barat yang berakar pada nilai-nilai surau, kita optimistis akan lahir kembali pemikir-pemikir besar di era digital,” ungkapnya dalam penutupan orasi ilmiah.

Pengukuhan Prof. Dr. H. Asmendri, S.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar diharapkan semakin memperkuat posisi UIN Mahmud Yunus Batusangkar sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi berbasis nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Minangkabau. (hospiburda)