Pilih Laman

Menarik Becak bersama Ayah

oleh | Sep 17, 2024

130

Oleh Sirajul Munir
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Tak ada hari yang sangat kami tunggu, selain Sabtu.

Hari itu adalah hari balai (pasar) yang hanya sekali sepekan.

Orang-orang kampung kami, tak pernah membuat acara-acara sakral pada hari itu: pernikahan, akikah, sunatan, dan syukuran. Sebab, dijamin takkan ada yang datang.

Muda-mudi akan keluar rumah dengan penampilan terbaiknya, mungkin juga sedikit tebar pesona.

Anak-anak sekolah, biasanya pulang lebih awal, bergerombolan bersama teman-teman menuju pasar. Sebagian mungkin mencari makanan enak, sebagian lainnya hanya melepas lelah, cuci mata, atau menyaksikan pertunjukan sulap yang dimainkan oleh lelaki tua dengan membawa seekor ular yang disimpan dalam sebuah peti yang entah kapan akan dikeluarkan. Yang pasti, saat anak muda telah berkumpul membuat lingkaran, ia akan mulai menghipnotis penonton dengan kelihaiannya berbicara, ujung-ujungnya obatlah yang akan dijual: minyak asli ular kobra yang ampuh mengatasi segala jenis penyakit.

“Jika budak-budak (sebutannya untuk anak-anak) sering sakit atau muda-mudi yang keseleo, patah tulang atau kakek-kakek yang lemah persendian, rematik dan tidak sembuh-sembuh walau telah berkali-kali ke dokter, silakan dicoba minyak ajaib ini, jangan lupa baca salawat. Ketika Tuhan mendatangkan penyakit, Ia juga telah menyediakan obatnya. Tak ada penyakit yang tak bisa sembuh, selain kematian.” Begitu kata Sang Bapak dengan kalimat yang berbusa-busa.

*

Telah berpuluh-puluh tahun Ayah bekerja membuat perabotan: lemari, kursi, meja makan, pemasangan kaca jendela, dan rak-rak untuk jualan bagi para pedagang. Akhirnya ditinggalkan pelanggan. Mungkin zaman telah berubah, orang-orang lebih memilih yang siap jadi dibanding tempahan yang harus menunggu lama dengan model yang jauh dari bentuk modern.

Maka Ayah mulai berpindah-pindah pekerjaan. Pernah melaut, tapi tubuhnya tak bisa menyatu dengan angin laut, jika cuaca lagi buruk-buruknya dan Ayah belum juga pulang, malah Ibu yang kecemasan duluan, tak bisa tidur memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ganjil.

Akhirnya, Ayah membeli becak milik temannya, untuk dipakai mengangkut barang, bukan becak penumpang yang membawa orang-orang ke sana dan ke mari.

*

Jika teman-temanku bersenang-senang di hari Sabtu, maka aku justru mencari cuan, bekerja menarik becak bersama Ayah.

Sebelumnya, kami minta izin dulu kepada Kepala Sekolah untuk diberi keringanan libur pada hari Sabtu. Minggu pertama aku yang libur, minggu kedua kembaranku yang tidak masuk, minggu ketiga kembali aku yang minta izin dan minggu ke empat giliran kembaranku yang libur. Kami memilih selang seling.

Pada hari balai, pedagang dari berbagai daerah berduyun-duyun memasuki pasar, membawa dagangan mereka dengan bus.

Sedang penduduk lokal hanya sedikit sekali yang ambil bagian untuk berjualan, selain hanya membeli.

Umak-umak biasanya hanya belanja sekali sepekan untuk menyetok kebutuhan mingguan, seperti beras, cabai, bawang, dan segala keperluan dapur. Sisanya beli buah-buahan atau makanan untuk menggembirakan anak-anak yang menunggu di rumah.

Maka kami mulai keluar masuk los-los mendatangi umak-umak yang sedang berbelanja. Mereka akan memanggil-manggil tukang becak agar tentengannya diangkut ke rumahnya: sekarung beras, satu atau dua kantong kresek. Bayarannya tergantung jumlahnya. Jika yang belanja itu pedagang, boleh jadi setengah isi becak hanya untuknya saja: setandan pisang untuk jualan gorengan, puluhan semangka untuk di potong, ubi, jagung, dan beras.

Becaknya sendiri kami parkirkan di pelabuhan yang tempatnya agak lapang. Karung beras dan kantong kresek pelanggan akan kami beri nama agar tak salah saat pengantaran barang ke rumah mereka.

Dulu, waktu masih remaja, saya mengira, dengan pekerjaan menarik becak dan mengangkat beban-beban yang berat, badan saya akan cepat besar, berotot, dan menjadi tinggi. Tapi tetap saja tak ada perubahan.

Di kampung, penamaan orang yang bertubuh pendek itu semekot (semeter kotor). Saya malah bersyukur pada Tuhan karena tinggi badan dapat mencapai 150-an, sebab semenjak SD saya selalu menjadi murid yang paling rendah, dan paling ringan juga berat badannya.

Saat menarik becak, kami sering bertemu dengan guru, bahkan teman-teman sekelas.

Pernah ketika mengantar beras ke salah satu rumah seorang pelanggan, seorang teman berteriak memanggil saya:

“Woi, salah seorang kalian, entah Sirajul Huda entah Sirajul Munir JUARA UMUM”

Oalah, saya lupa kalau hari itu kami sedang menerima rapor. Saya bersyukur pada Tuhan, pada rasa malu yang telah saya buang, ada berita gembira yang terdengar amat menyenangkan.

*

Selalu saja ada patahan-patahan pada setiap usaha yang kita jalankan.

Jika pelaut, tubuhnya harus kuat menantang badai. Petani kakinya harus kuat di atas lumpur dan tidak takut pada ancaman binatang-binatang kecil berbisa atau binatang yang berbahaya, sedang penarik becak harus berlatih memunggungi matahari, atau menyatu dengan hujan.

Kami pernah dapat banyak pesanan dari pelanggan yang kebetulan seorang pedagang. Saking banyaknya bawaan, roda becakpun tak kuat lagi berputar, hingga pendapatan kami harus dibagi dengan tukang bengkel. Kadang karena kecerobohan ada barang yang hilang, mungkin salah sasaran. Tapi resiko tetap harus ditanggung.

Malamnya, kulihat Ayah duduk tenang, tapi aku yakin pikirannya pasti bergelombang mengenang peristiwa kesialan tadi siang. 

“Besok pagi, tak usah Ibumu memasak. Semua kalian akan Ayah belikan lontong cubadak, lontong tauco, sate, ditambah bakwan dan goreng pisang.” Begitu bisik Ayah di atas becak menjelang kepulangan. Tapi karena peristiwa bengkoknya roda becak, janji itu menjadi terbakar.