Pilih Laman

Memahami Oplosan (Blending) Bahan Bakar Pertalite RON 90 dan Pertamax RON 92 dari Kajian Fisika dan Syariah Islam

oleh | Apr 17, 2025

4965

By. Frans R. Agustiyanto
Dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Oplosan bahan bakar kerap menjadi isu yang meresahkan pengguna kendaraan bermotor di Indonesia. Salah satu praktik yang sering terjadi adalah mencampur Pertalite dengan Pertamax dengan tujuan meningkatkan performa mesin atau menghemat biaya bahan bakar. Namun, apakah pencampuran ini benar-benar memberikan manfaat? Dari sudut pandang fisika, campuran dua jenis bahan bakar dengan nilai oktan berbeda dapat berdampak pada efisiensi pembakaran, suhu kerja mesin, dan daya dorong kendaraan. Selain itu, dalam perspektif syariah Islam, pencampuran ini perlu dikaji dari aspek kejujuran, kemaslahatan, dan potensi kerugian yang ditimbulkan. Artikel ini akan membahas bagaimana prinsip fisika dan hukum Islam bekerja dalam fenomena oplosan bahan bakar ini.

Nilai Oktan dan Proses Pembakaran dalam Mesin

Nilai oktan adalah ukuran ketahanan bahan bakar terhadap detonasi atau pembakaran sebelum waktunya di dalam silinder mesin.

  • Pertalite memiliki nilai oktan 90, yang cocok untuk mesin dengan rasio kompresi rendah hingga menengah.
  • Pertamax memiliki nilai oktan 92-95, yang lebih sesuai untuk mesin dengan rasio kompresi lebih tinggi.

Saat Pertalite dan Pertamax dicampur, nilai oktan rata-rata akan meningkat, tetapi tidak secara linear. Ini karena sifat kimia bahan bakar dan zat aditif yang mungkin tidak tercampur sempurna. Akibatnya, dalam beberapa kasus, pencampuran dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna, yang justru dapat menurunkan efisiensi mesin.

Efek Oplosan Bahan Bakar terhadap Performa Mesin

Dari sudut pandang fisika termodinamika, energi yang dihasilkan dalam ruang bakar bergantung pada efisiensi konversi energi kimia menjadi energi mekanik. Ketika bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih rendah dicampur dengan yang lebih tinggi, terdapat beberapa kemungkinan dampak:

  1. Perubahan tekanan dan suhu pembakaran
    • Jika nilai oktan campuran tidak sesuai dengan spesifikasi mesin, pembakaran dapat terjadi sebelum piston mencapai titik atas (pre-ignition), menyebabkan ketukan mesin (knocking).
  2. Efisiensi Termal
    • Mesin yang dirancang untuk Pertamax dapat mengalami penurunan efisiensi saat menggunakan campuran, karena kontrol pembakaran menjadi lebih sulit.
  3. Residu Pembakaran
    • Aditif yang berbeda dalam Pertalite dan Pertamax dapat menghasilkan residu berbeda setelah pembakaran, yang dapat mempengaruhi kebersihan injektor dan katup mesin.

Kajian Syariah Islam tentang Oplosan Bahan Bakar

Dalam Islam, praktik pencampuran bahan bakar ini dapat dikaji dalam perspektif kejujuran (ash-shidq) dan larangan gharar (ketidakpastian dalam transaksi). Beberapa prinsip yang relevan adalah:

  1. Larangan Menipu (Tadlis)
    • Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menipu, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim No. 101). Jika pencampuran bahan bakar dilakukan dengan tujuan menyembunyikan kualitas asli dan menjualnya sebagai Pertamax, maka ini termasuk praktik yang dilarang dalam Islam.
  2. Gharar dalam Transaksi
    • Dalam fiqih muamalah, gharar berarti ketidakjelasan dalam transaksi yang dapat merugikan salah satu pihak. Jika pencampuran ini dilakukan tanpa informasi yang jelas kepada konsumen, maka dapat dikategorikan sebagai jual beli yang mengandung gharar, yang dilarang dalam Islam.
  3. Prinsip Maslahah dan Dlarar
    • Islam menekankan pentingnya maslahah (kemaslahatan umum) dan melarang mudharat (bahaya atau kerugian). Jika oplosan bahan bakar menyebabkan kerusakan mesin atau merugikan pengguna kendaraan, maka praktik ini tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Kajian Fisika tentang Konsumsi dan Efisiensi Bahan Bakar

Dalam fisika fluida, pencampuran bahan bakar dari dua jenis yang berbeda akan menghasilkan densitas dan viskositas baru yang dapat mempengaruhi aliran bahan bakar dalam sistem injeksi atau karburator. Selain itu:

  • Kecepatan pembakaran bahan bakar dalam mesin bergantung pada komposisi kimia dan sifat fisik campuran.
  • Rasio udara-bahan bakar (Air Fire Ratio) dalam sistem injeksi mesin bisa berubah akibat oplosan, sehingga menyebabkan mesin bekerja kurang optimal jika tidak disesuaikan dengan sistem ECU (Engine Control Unit).

Penjelasan Teknis tentang RON dan Kesesuaiannya dengan Mesin

Masih banyak kesalahpahaman terkait Research Octane Number (RON) dalam bahan bakar kendaraan. Salah satu anggapan keliru yang sering terjadi adalah mengira bahwa RON tinggi lebih mudah terbakar. Padahal, faktanya justru sebaliknya. RON tinggi memiliki suhu penyalaan (flash point) yang lebih tinggi, sehingga lebih sulit terbakar dan tidak mudah mengalami pre-ignition di dalam mesin dengan kompresi tinggi.

Jika mesin dengan kompresi tinggi menggunakan RON rendah, bahan bakar dapat terbakar sebelum busi menyala akibat peningkatan suhu akibat tekanan yang tinggi. Fenomena ini disebut sebagai efek dieseling, di mana piston terdorong balik sebelum waktunya, menyebabkan ketukan mesin (knocking). Sebaliknya, jika mesin dengan kompresi rendah menggunakan RON tinggi, pembakaran dapat menjadi kurang sempurna, terutama pada putaran mesin (RPM) tinggi. Akibatnya, tenaga mesin bisa berkurang, emisi karbon monoksida (CO) meningkat, dan bahkan dapat menghasilkan jelaga pada knalpot.

Perlu dipahami bahwa kualitas bensin tidak hanya ditentukan oleh nilai RON, tetapi juga oleh tingkat kemurnian dan kandungan aditif di dalamnya. RON tinggi bukan berarti selalu lebih baik, tetapi yang terbaik adalah bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin. Sebagai contoh ekstrem, jika mobil diesel diisi dengan Pertamax Turbo, tentu tidak akan optimal. Demikian pula, mobil dengan kompresi rendah, seperti kebanyakan mobil lama memang lebih cocok menggunakan bensin dengan RON rendah.

Penerapan regulasi pembagian bahan bakar berdasarkan kapasitas mesin (cc) juga kurang tepat secara teknis. Misalnya, beberapa mobil lama seperti Mercedes-Benz, Opel Blazer, atau Volvo memiliki kapasitas mesin di atas 2.000 cc, tetapi kompresinya masih di bawah 9:1, sehingga tetap lebih cocok menggunakan RON rendah. Jika menggunakan RON tinggi, kendaraan tersebut justru berisiko tidak lolos uji emisi CO. Jika regulasi berbasis tahun keluaran kendaraan, mungkin ada sedikit korelasi, meskipun tetap belum sepenuhnya akurat. Bahkan dalam satu merek dan tahun yang sama, rasio kompresi mesin bisa berbeda-beda tergantung pada tipe kendaraan.

Jadi, dalam memilih bahan bakar, yang terpenting bukan sekadar nilai RON yang lebih tinggi, tetapi kesesuaian dengan rasio kompresi mesin kendaraan agar pembakaran lebih optimal dan emisi tetap terkendali. 🚗⛽

Kesimpulan

Dari kajian fisika, mencampur Pertalite dan Pertamax mungkin memberikan efek jangka pendek dalam hal peningkatan nilai oktan, tetapi dampaknya pada efisiensi pembakaran, performa mesin, dan konsumsi bahan bakar bisa bervariasi tergantung pada jenis kendaraan. Sementara dari perspektif syariah Islam, praktik oplosan bahan bakar dapat menjadi terlarang jika dilakukan dengan niat menipu konsumen atau menyebabkan kerugian bagi pengguna. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami dampak teknis dan etis sebelum melakukan pencampuran bahan bakar. Untuk kendaraan yang telah dirancang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi, lebih baik tetap menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan agar pembakaran berlangsung optimal dan mesin tetap awet.

Referensi:

  1. Prinsip Fisika dalam Mesin Pembakaran Internal – Kristianto, W., Analisis Penggunaan Pertalite Dan Pertamax Terhadap Performa Motor Bakar Injeksi 110 Cc, Proyek Akhir, Politeknik Negeri Bali.
  2. Studi Efisiensi Bahan Bakar dan Nilai Oktan –https://mesin.ft.unesa.ac.id/post/makna-perbedaan-oktan-bahan-bakar-dan-pengaruhnya-pada-performa-kendaraan, diakses 9 Maret 2025, Pukul 11:37.
  3. Hadis Shahih tentang Kejujuran dalam Perdagangan – HR. Muslim No. 101
  4. Fiqih Muamalah: Konsep Gharar dan Larangan Tadlis – https://kumparan.com/berita-hari-ini/mengenal-apa-itu-tadlis-dan-hukumnya-dalam-islam-22ymXUlabnv/4, diakses 9 maret 2025, pukul 13:42.
  5. Konsep Ghahar – https://www.ocbc.id/id/article/2021/11/11/gharar-adalah, diakses 9 maret 2025, pukul 14:02.
  6. Analisis Dampak Knocking pada Mesin – https://solarindustri.com/blog/bahaya-knocking-pada-mesin/, diakses 9 maret 2025, pukul 16:30.