Pilih Laman

Dari Kelas ke Lapangan: Mahasiswa UIN Mahmud Yunus Batusangkar Menyusun Jejak Pertama di Dunia Kerja

oleh | Jul 3, 2025

142

Batusangkar – Hari itu, Rabu pagi (18/6), wajah-wajah mahasiswa Fakultas Syariah UIN Mahmud Yunus Batusangkar tampak menyimak serius layar perangkat mereka. Bukan sekadar perkuliahan daring seperti biasa. Mereka sedang memasuki babak baru dalam proses belajarnya—pembekalan magang tahap II.

Sebanyak 166 mahasiswa dari tiga program studi, yakni Ahwal al-Syakhshiyyah, Hukum Ekonomi Syariah, dan Hukum Tata Negara, berkumpul secara virtual untuk mendengarkan arahan terakhir sebelum terjun ke dunia kerja. Bagi mereka, ini bukan awal dari perjalanan. Sebelumnya, mereka telah menjalani magang tahap I—sebuah pengalaman yang telah membentuk dasar profesionalisme mereka.

Magang tahap I berlangsung selama dua bulan di awal tahun 2025, berfokus pada praktik di lingkungan peradilan agama. Di sana, mahasiswa tak hanya duduk di kursi pengamat. Dalam magang tersebut, mahasiswa tidak hanya mengamati jalannya proses peradilan, tapi juga dilatih menyusun dan mengeksaminasi naskah sidang, serta mempraktikkan berbagai peran strategis dalam simulasi perkara: sebagai hakim, panitera, penasihat hukum, bahkan mediator. Banyak dari mereka untuk pertama kalinya merasakan bagaimana suara mereka dibutuhkan dalam suasana persidangan yang penuh tanggung jawab moral.

Kini, melalui magang tahap II, pengalaman itu akan diperluas ke dunia profesional yang lebih beragam. Mahasiswa Ahwal al-Syakhshiyyah akan mendalami praktik advokat, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah menyelami dinamika lembaga keuangan syariah, sementara mahasiswa Hukum Tata Negara akan bergelut dengan legislasi dan kebijakan publik di kantor-kantor DPRD kabupaten/kota di Sumatera Barat.

“Magang bukan sekadar tugas akhir semester,” ujar Dr. Elsy Renie, M.Ag., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan. “Ia adalah latihan hidup, tempat mahasiswa menguji diri—apakah ilmu yang dipelajari benar-benar bisa dihidupkan di tengah masyarakat.”

Program magang ini akan berlangsung dari 1 hingga 30 Juli 2025, tersebar di 54 lokasi mitra: 25 kantor advokat, 15 lembaga keuangan syariah, dan 14 kantor DPRD. Sebanyak 37 dosen pembimbing lapangan akan mendampingi mahasiswa dalam proses penguatan kompetensi dan karakter profesional.

Pembekalan menghadirkan narasumber yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga inspiratif. Sudi Prayitno, S.H., LL.M., advokat senior; Rahmat Kurnia, M.E., CRP., Dewan Pengawas Syariah LKS; serta Nanda Satria, S.I.P., Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat—memberikan pandangan kritis dan motivasi kuat tentang realitas dunia kerja di bidang hukum, keuangan, dan politik.

“Mahasiswa bukan lagi sekadar pengamat. Mulai bulan depan, kalian akan menjadi bagian dari sistem itu sendiri,” ucap Nanda dalam diskusi yang menggugah banyak peserta.

Hebby Rahmatul Utamy, S.H.I., M.Sy., Kepala Laboratorium Syariah, menyampaikan bahwa pembagian magang berbasis keilmuan ini dirancang sebagai satu kesatuan strategi pembelajaran.

“Di tahap pertama, mereka belajar bagaimana sistem peradilan bekerja dan menjalani peran di dalamnya. Di tahap kedua ini, mereka mulai mengenali dunia profesi yang akan mereka hadapi selepas lulus,” ujarnya.

Dan begitulah, dunia kerja kembali membuka pintunya. Mungkin tak akan mudah. Akan ada pagi-pagi yang berat, ruangan yang asing, atau tugas yang tak sesuai harapan. Tapi justru di sanalah mahasiswa belajar menjadi manusia yang utuh—yang bukan hanya tahu, tapi mampu; bukan hanya mengerti, tapi memahami.

Kelak, saat mereka kembali ke bangku kuliah, mereka tak lagi sama. Mereka akan datang dengan mata yang lebih tajam, sikap yang lebih mantap, dan keyakinan yang lebih dalam: bahwa ilmu yang dibawa dari ruang kelas memang pantas diperjuangkan di medan nyata.

Untuk mereka, 166 nama yang kini bersiap melangkah, ini bukan sekadar magang. Ini adalah kelanjutan dari perjalanan menjadi bagian dari perubahan.