
Batusangkar – Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar mencatat tonggak penting dalam pengembangan pendidikan doktoral. Sebanyak 10 doktor berhasil dilahirkan melalui Ujian Terbuka Promosi Doktor Batch I dan Batch II, yang rangkaiannya berakhir pada 6 Agustus 2026 lalu. Capaian ini tidak hanya menambah deretan lulusan doktor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, tetapi sekaligus menjadi bukti bahwa sistem akademik dan tata kelola Program Doktor (S3) Studi Islam semakin terprogram, terstruktur, dan berorientasi pada mutu.
10 doktor tersebut menyelesaikan proses akademik melalui tahapan yang panjang dan terukur, mulai dari pembelajaran, pembimbingan, penelitian, ujian tertutup, hingga ujian terbuka. Setiap promovendus mempertahankan disertasi di hadapan dewan penguji yang memiliki kepakaran sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Rangkaian tersebut berlangsung dalam dua batch. Batch I melahirkan lima doktor, kemudian dilanjutkan Batch II yang juga melahirkan lima doktor dan ditutup dengan Ujian Terbuka Promosi Doktor atas nama Burhanuddin pada 6 Agustus 2026 lalu. Dengan demikian, dalam rangkaian pelaksanaan tersebut, Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar berhasil mengantarkan 10 mahasiswa Program Doktor Studi Islam menuntaskan pendidikan akademiknya dan menjadi bukti 50 % + 1 mahasiswa angkatan I tamat tepat waktu.
Direktur Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc., menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaannya atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan melahirkan 10 doktor merupakan hasil dari proses akademik yang telah dipersiapkan secara sistematis.
“Alhamdulillah, kami bersyukur dan bangga atas capaian ini. Sepuluh doktor telah menyelesaikan proses akademiknya melalui Batch I dan Batch II. Bagi kami, ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi bukti bahwa pengelolaan akademik di Pascasarjana telah berjalan secara terprogram, terstruktur, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Marjoni.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur Pascasarjana, mulai dari pengelola program studi, dosen, promotor dan co-promotor, tenaga kependidikan, hingga seluruh tim yang terlibat dalam setiap tahapan pendidikan doktoral.
Menariknya, capaian tata kelola tersebut memperoleh apresiasi positif dari Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A.
Penilaian tersebut disampaikan Prof. Sahiron setelah melihat secara langsung proses akademik Program Doktor Studi Islam ketika hadir sebagai penguji eksternal pada Ujian Terbuka Promosi Doktor ke-10 atas nama Burhanuddin, kamis (6/8/2026).
Kehadiran Direktur PTKI Kementerian Agama RI sebagai penguji eksternal memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana proses pendidikan doktoral dijalankan di Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Berbagai tahapan akademik yang telah dilaksanakan menjadi bagian dari gambaran mengenai keseriusan Pascasarjana dalam membangun tata kelola pendidikan doktoral.
Apresiasi tersebut menjadi penting bagi Pascasarjana karena hadir dari pihak eksternal yang secara langsung menyaksikan proses akademik yang berlangsung. Bagi UIN Mahmud Yunus Batusangkar, penilaian positif tersebut menjadi penguatan sekaligus motivasi untuk terus menyempurnakan sistem akademik dan tata kelola kelembagaan.
Tanggapan berikutnya dari Ketua Program Studi Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari orientasi akademik Program Doktor yang diarahkan pada pencapaian Level 9 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Menurutnya, pendidikan doktoral tidak berhenti pada keberhasilan mahasiswa memperoleh gelar akademik. Setiap mahasiswa harus diarahkan untuk memiliki kedalaman keilmuan, kemampuan berpikir kritis, penguasaan metodologi penelitian, serta kemampuan menghasilkan kebaruan ilmiah (novelty) yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kami ingin setiap doktor yang lahir dari Program Doktor Studi Islam bukan hanya mendapatkan gelar, tetapi benar-benar memiliki kapasitas sebagai ilmuwan dan peneliti. Disertasi harus memiliki kedalaman, kebaruan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu maupun persoalan nyata di masyarakat,” jelas Prof. Rahmad.
Ia menambahkan, pengalaman penyelenggaraan Batch I dan Batch II menjadi bahan penting bagi Program Studi untuk terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan sistem akademik. Penguatan pembimbingan, pengendalian mutu penelitian, peningkatan publikasi, serta pengembangan jejaring akademik akan terus dilakukan agar kualitas lulusan semakin meningkat.
Bagi Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, lahirnya 10 doktor dalam dua batch merupakan lebih dari sekadar capaian kuantitatif. Sepuluh doktor tersebut menjadi indikator bahwa sebuah sistem akademik sedang bekerja dan berkembang.
Proses yang terstruktur dari pembelajaran hingga promosi doktor menunjukkan adanya kesinambungan pengelolaan akademik. Sementara apresiasi dari Direktur PTKI Kementerian Agama RI menjadi pengakuan eksternal yang semakin memperkuat kepercayaan Pascasarjana untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Karena itu, Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar akan menjadikan capaian tersebut sebagai momentum untuk memperkuat berbagai aspek, terutama mutu pendidikan doktoral, budaya riset, publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, kolaborasi akademik, serta internasionalisasi program studi.
Sepuluh doktor telah lahir. Namun bagi Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, capaian tersebut bukanlah garis akhir. Ini adalah pijakan baru untuk membangun tradisi akademik yang lebih kuat dan melahirkan lebih banyak ilmuwan, peneliti, dan pemikir yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Capaian tersebut sekaligus mempertegas arah transformasi UIN Mahmud Yunus Batusangkar: membangun tata kelola yang semakin baik, memperkuat kualitas akademik, dan melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu membawa nama UIN Mahmud Yunus Batusangkar semakin diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional. (hospiburda)