Pilih Laman

Prof. Dr. Phil Sahiron, MA: UIN Mahmud Yunus Batusangkar Harus Siap Menjadi Destinasi Mahasiswa Internasional

oleh | Agu 6, 2026

108

Batusangkar – Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., menegaskan bahwa UIN Mahmud Yunus Batusangkar harus mulai mempersiapkan diri menjadi destinasi mahasiswa internasional sebagai bagian dari agenda besar internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia. Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan pembinaan tentang Penguatan Tata Kelola Perguruan Tinggi Berbasis Manajemen dan Layanan Profetik dihadapan Rekor, Wakil Rektor, Kepala Biro UAPK, Dekan dan Direktur, Ketua Lembaga, SPI dan jajaran pada UIN Mahmud Yunus Batusangkar, kamis (6/8/2026).

Menurut Prof. Sahiron, pemerintah melalui Kementerian Agama terus mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menjadi pemain penting dalam kancah pendidikan tinggi dunia. Hal tersebut sejalan dengan target nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia agar pada tahun 2029 sebanyak 100 ribu mahasiswa asing menempuh pendidikan di Indonesia.

“UIN Mahmud Yunus Batusangkar harus mengambil bagian dalam target nasional tersebut. Kampus ini memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan belajar mahasiswa internasional. Karena itu, mulai hari ini harus disiapkan langkah-langkah strategis, mulai dari penguatan mutu akademik, layanan internasional, hingga perluasan jejaring kerja sama luar negeri,” tegas Prof. Sahiron.

Menurutnya, internasionalisasi bukan hanya menghadirkan mahasiswa asing ke kampus, tetapi juga membangun budaya akademik yang berdaya saing global, meningkatkan kualitas riset, memperluas kolaborasi internasional, serta memperkenalkan kekayaan intelektual Islam Indonesia kepada masyarakat dunia.

Selain membahas internasionalisasi, Prof. Sahiron juga memperkenalkan konsep Manajemen dan Layanan Profetik sebagai paradigma baru dalam tata kelola Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Ia menjelaskan bahwa seluruh aktivitas di perguruan tinggi harus dilandasi oleh nilai ibadah sehingga setiap pekerjaan menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.

“Kalau orientasi kita ibadah, maka pelayanan akan menjadi lebih tulus, pekerjaan menjadi lebih berkualitas, dan kampus akan tumbuh dengan budaya akademik yang sehat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi (compliance to law) sebagai fondasi tata kelola yang baik. Menurutnya, setiap aturan harus dipahami sebagai instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.

berikutnya, Prof. Sahiron menekankan bahwa setiap perguruan tinggi harus memiliki visi jangka panjang. Pengembangan program studi, fakultas, sumber daya manusia, hingga kerja sama internasional harus dirancang secara terukur agar mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi masa depan.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kapasitas tenaga kependidikan (tendik). Menurutnya, transformasi universitas tidak hanya bertumpu pada dosen, tetapi juga membutuhkan tenaga kependidikan yang profesional, adaptif, dan memiliki wawasan internasional.

Untuk itu, ia mendorong UIN Mahmud Yunus Batusangkar menyusun berbagai program pengembangan kompetensi melalui pelatihan online, offline, maupun internship, terutama dalam bidang digitalisasi layanan, bahasa asing, administrasi internasional, dan pelayanan akademik.

Sementara itu, Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yang telah memberikan arah kebijakan strategis bagi pengembangan universitas.

Menurut Rektor, berbagai arahan tersebut sejalan dengan visi UIN Mahmud Yunus Batusangkar untuk menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan memiliki reputasi internasional.

“Arahan Prof. Sahiron menjadi motivasi sekaligus tantangan bagi kami untuk mempercepat internasionalisasi kampus. UIN Mahmud Yunus Batusangkar akan terus memperkuat kualitas akademik, tata kelola, kerja sama luar negeri, pengembangan program studi, serta layanan internasional agar mampu menjadi tujuan belajar mahasiswa dari berbagai negara,” ujar Prof. Delmus.

Ia menambahkan bahwa internasionalisasi bukan hanya tentang menerima mahasiswa asing, tetapi juga membangun ekosistem akademik yang terbuka, inklusif, inovatif, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang menjadi identitas UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Melalui pembinaan ini, UIN Mahmud Yunus Batusangkar semakin menegaskan komitmennya untuk terus melakukan transformasi kelembagaan melalui penguatan manajemen dan layanan profetik, peningkatan mutu akademik, pengembangan sumber daya manusia, serta perluasan jejaring internasional sebagai langkah nyata menuju universitas Islam bereputasi global. (hospibuda)