Pilih Laman

Reni Susanti Resmi Dinobatkan sebagai Doktor Kedua UIN Mahmud Yunus Batusangkar

oleh | Jun 15, 2026

85

Batusangkar – Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali melahirkan insan akademik pada jenjang pendidikan tertinggi. Setelah keberhasilan meluluskan doktor pertama, kini Reni Susanti resmi dinobatkan sebagai doktor kedua UIN Mahmud Yunus Batusangkar setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung khidmat di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Lantai IV Kampus II, senin (15/6/2026).

Dalam sidang terbuka tersebut, Reni Susanti dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor setelah melewati proses pengujian akademik secara mendalam oleh dewan penguji yang terdiri dari para guru besar dan akademisi berkompeten di bidangnya, yaitu:

  1. Prof. Dr. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D. selaku Ketua Sidang/Promotor.
  2. Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc. sebagai Wakil Ketua Penguji,
  3. Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd. sebagai Sekretaris,
  4. Prof. Dr. H. Kasmuri Selamat, M.A. sebagai Penguji Eksternal,
  5. Prof. Dr. H. Khairunnas Rajab, M.Ag. sebagai Penguji Eksternal,
  6. Dr. H. Muhammad Yunus Salam, M.Ag. sebagai Co-Promotor I, dan
  7. Dr. H. Akhyar Hanif, M.Ag. sebagai Co-Promotor II.

Disertasi yang dipertahankan berjudul “Ilmu Hudhuri dalam Filsafat Pengetahuan Al-Ghazali dan Mulla Shadra (Studi Komparatif)”. Kajian ini menghadirkan dialog intelektual antara dua pemikir besar dunia Islam, yaitu Imam Al-Ghazali dan Mulla Shadra, dalam memahami konsep ilmu hudhuri atau pengetahuan kehadiran, yaitu bentuk pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pengalaman langsung tanpa perantara representasi konseptual.

Melalui kajian komparatif tersebut, Reni Susanti menelusuri bagaimana kedua tokoh memiliki titik temu dan perbedaan dalam memahami hubungan antara subjek yang mengetahui, objek pengetahuan, jiwa, serta hakikat kesadaran manusia. Al-Ghazali menempatkan dimensi spiritual dan penyucian jiwa sebagai jalan penting untuk memperoleh pengetahuan hakiki, sementara Mulla Shadra mengembangkan pendekatan filosofis melalui konsep kesatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui (ittihad al-‘aqil wa al-ma‘qul) dalam proses pencapaian pengetahuan.

Penelitian ini menjadi kontribusi penting dalam pengembangan filsafat pengetahuan Islam kontemporer karena menghadirkan pembacaan ulang terhadap warisan intelektual Islam klasik untuk menjawab persoalan epistemologi modern, khususnya mengenai sumber, validitas, dan hakikat pengetahuan manusia.

Keberhasilan Reni Susanti meraih gelar doktor menunjukkan semakin berkembangnya tradisi riset pada Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Hal ini juga menjadi indikator bahwa program doktor yang baru berdiri tersebut telah mampu menghasilkan penelitian-penelitian dengan kedalaman teoritis dan kontribusi keilmuan sesuai dengan karakter jenjang doktoral Level 9 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). (hospiburda)