Pilih Laman

Menantang Dominasi Psikologi Berbasis Otak, Disertasi Doktor Pertama UIN Mahmud Yunus Batusangkar Hadirkan Paradigma Kecerdasan Hati dalam Perspektif Islam

oleh | Jun 15, 2026

163

Batusangkar — Lahirnya doktor pertama Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar tidak hanya menjadi tonggak sejarah institusi, tetapi juga menghadirkan kontribusi akademik yang menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui disertasinya, Desmita mengangkat sebuah kajian yang cukup berani dengan meninjau ulang paradigma psikologi modern yang selama ini menempatkan otak sebagai pusat seluruh aktivitas mental manusia.

Dalam disertasi berjudul “Konstruksi Konsep Kecerdasan Hati Menurut Psikologi Islam dan Signifikansinya dalam Mewujudkan Higher Self Development (Studi Analisis Hati Berfungsi untuk Berpikir)”, Desmita menawarkan sebuah konstruksi pemikiran bahwa dalam perspektif psikologi Islam, hati (qalb) tidak hanya dipahami sebagai pusat spiritualitas dan moralitas, tetapi juga memiliki fungsi kognitif sebagai pusat pemahaman, kesadaran, refleksi, dan proses berpikir manusia.

Kajian ini berangkat dari kritik terhadap arus utama psikologi ilmiah modern yang cenderung bersifat reduksionis, yaitu memandang pikiran, emosi, kesadaran, dan kecerdasan semata-mata sebagai produk aktivitas neurologis di otak. Pandangan tersebut kemudian dipertemukan dengan tradisi keilmuan Islam yang memiliki paradigma berbeda, di mana Al-Qur’an menggunakan konsep qalb sebagai instrumen utama dalam memahami, merenungkan, dan menangkap kebenaran.

Dalam penelitiannya, Desmita mengajukan hipotesis yang cukup progresif bahwa pikiran berpusat pada hati, bukan semata-mata pada otak. Gagasan ini menjadi bagian dari upaya memperluas cakrawala psikologi melalui pendekatan postmaterialisme yang mulai mengkritisi keterbatasan pandangan materialistik dalam menjelaskan pengalaman batin, kesadaran, niat, makna hidup, dan pengalaman spiritual manusia.

Lebih jauh, penelitian ini mengkaji konsep kecerdasan hati melalui berbagai perspektif keilmuan Islam, termasuk pembahasan mengenai lapisan-lapisan hati (maqāmāt al-qalb) seperti sadr, qalb, fu’ad, dan lubb. Selain itu, Desmita juga mengkaji pemikiran para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, Ibn Arabi, dan Abu Thalib Al-Makki dalam menjelaskan dimensi terdalam dari fungsi dan kecerdasan hati manusia.

Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan hati tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami realitas, tetapi juga tercermin dalam sejumlah indikator kepribadian, seperti kemurnian niat, kesabaran, rasa syukur, refleksi (tafakkur), dan kejujuran. Seluruh aspek tersebut menjadi fondasi dalam membangun higher self development, yaitu proses pengembangan diri menuju kualitas manusia yang lebih matang secara intelektual, emosional, moral, dan spiritual.

Kajian Desmita menjadi salah satu contoh bagaimana Program Doktor Studi Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya memperkuat khazanah keilmuan Islam klasik, tetapi juga mampu berdialog secara kritis dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

Disertasi ini juga menunjukkan karakter pendidikan doktoral level 9 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang menuntut lahirnya temuan konseptual, pengembangan teori, serta kontribusi baru terhadap disiplin ilmu. Dengan pendekatan integratif antara kajian Islam, filsafat ilmu, dan psikologi kontemporer, penelitian ini membuka ruang diskusi baru mengenai hakikat manusia, kesadaran, dan sumber kecerdasan dalam perspektif keilmuan Islam. (hospiburda)