Pilih Laman

DEMA UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan LKAAM Tanah Datar Perkuat Sinergi Pendidikan Karakter Generasi Muda

oleh | Mei 26, 2026

22

Tanah Datar – Badan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas UIN Mahmud Yunus Batusangkar mengadakan diskusi dengan ketua Kerapatan Alam Minangkabau (LKAAM) Tanah Datar, Datuak Andomo, pada hari Kamis (21/05/2026). Kegiatan ini membahas peran niniak mamak dalam menangani dan mengatasi fenomena LGBT dan pergaulan bebas di Luhak Nan Tuo, Kabupaten Tanah Datar.

Diskusi tersebut dihadiri oleh para pengurus DEMA Universitas, termasuk Presiden Mahasiswa, Bendahara umum Kementerian Kajian Aksi dan Strategi (Kemenkastrat), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KemenPP). Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan menyoroti nilai-nilai tradisional, sosial, dan pendidikan masyarakat Minangkabau.

Ketua LKAAM Tanah Datar Datuak Andomo mengatakan, peran Niniak Mamak sebagai wakil adat mempunyai kedudukan penting dalam menjaga nilai-nilai budaya Minangkabau berdasarkan prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)”.

“Dalam tradisi Minangkabau, niniak mamak memiliki tanggung jawab untuk membimbing keponakan, menjaga moral, memberi nasihat, serta memperkuat pendidikan karakter dalam keluarga dan masyarakat, ” kata Datuak Andomo.

Ia menambahkan bahwa tantangan sosial yang berkembang saat ini perlu dihadapi melalui komunikasi, pembangunan keluarga, pendidikan, dan kerja sama antara unsur-unsur tradisional, pemerintah, tokoh agama, dan generasi muda.

Sementara itu, DEMA Universitas UIN Mahmud Yunus Batusangkar menganggap diskusi ini sebagai forum penting bagi mahasiswa untuk memahami peran lembaga tradisional dalam menghadapi berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Presiden Mahasiswa Muhammad Yandra menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan yang mampu mengembangkan dialog, penelitian, dan pendidikan sosial sambil tetap memperhatikan nilai-nilai budaya, masyarakat, dan perspektif akademis.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, tokoh tradisional, tokoh agama, dan pemerintah daerah dalam membangun lingkungan sosial yang harmonis, memperkuat pendidikan karakter generasi muda, serta menjaga identitas budaya masyarakat Minangkabau di Tanah Datar.