Pilih Laman

Agent of Change atau Penonton Perubahan?

oleh | Mei 26, 2026

117

Nama : Syaisa Khaira
Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris
Semester : 6 (Enam)

Mahasiswa saat ini sedang dilanda gunda gulana. Apakah harus tetap ikut berpikir dan peduli, atau membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Banyak mahasiswa mulai tidak peduli terhadap persoalan yang sebenarnya penting untuk diketahui dan dibahas bersama. Contohnya, berbagai fenomena di sekitar kita seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan yang menyimpang, hingga kebijakan pemerintah sering kali tidak lagi menjadi topik diskusi, bahkan di meja kantin kampus sekalipun.

Apakah kita sudah sedemikian acuh terhadap lingkungan sekitar? Memang, masih ada sebagian mahasiswa yang peduli. Namun, tidak sedikit pula yang memilih diam dan bersikap masa bodoh terhadap berbagai hal yang sebenarnya tidak pantas dibiarkan begitu saja. Bahkan, sering kali kita hanya melihat tanpa menegur atau mengingatkan mereka yang sedang berada di jalan yang salah. Apakah karena takut? Segan? Atau memang tidak ingin tahu?

Padahal, sebagai manusia kita tidak akan pernah lepas dari kehidupan sosial. Kita hidup berdampingan, saling membutuhkan, dan akan terus berinteraksi kapan pun dan di mana pun. Sayangnya, kalimat seperti, “Biarlah itu menjadi urusannya sendiri,” atau “Hidupku saja belum selesai,” kini semakin sering terdengar di kalangan mahasiswa. Tanpa disadari, sikap seperti itu justru membuat orang-orang yang sedang terpuruk merasa semakin sendirian. Bisa jadi, mereka sebenarnya hanya membutuhkan uluran tangan, seseorang yang mau merangkul, mendengarkan cerita mereka, lalu perlahan mengajak kembali ke jalan yang lebih baik.

Lalu, apakah semua ini sepenuhnya salah mahasiswa? Tentu tidak. Namun, sikap apatis hanya akan membuat “yang jauh menjadi semakin jauh, dan yang dekat menjadi kehilangan suara.” Sebagai mahasiswa yang kerap disebut Agent of Change, pantaskah kita bersikap acuh dan individualistis? Memang benar, di era modern sikap individualisme semakin digemari. Tetapi, kita hidup di bumi pertiwi yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kepedulian sosial.

Perubahan tidak akan lahir dari sikap diam. Perubahan lahir dari keberanian untuk peduli, saling mengingatkan, dan hadir bagi sesama. Jangan hanya ikut-ikutan memahami stoikisme sebagai alasan untuk tidak peduli terhadap sekitar. Ingatlah kembali semangat Sumpah Pemuda, bahwa kita dipersatukan bukan hanya oleh tanah air, tetapi juga oleh rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan sesama manusia.

Sampai kapan kita akan diam melihat teman, rekan, bahkan keluarga kita terjerumus dalam kesalahan? Sudah saatnya kita kembali merangkul satu sama lain. Ajak mereka duduk bersama, menikmati secangkir kopi, mendengarkan cerita tentang kerasnya hidup, lalu hadir sebagai manusia yang saling menguatkan.

Jadi kamu mau jadi bagian dari Agent of Change atau hanya menonton perubahan?

Hidup Mahasiswa.