Pilih Laman

Guru Besar Universitas Islam Madinah Bahas AI dan Studi Tafsir di UIN Mahmud Yunus Batusangkar

oleh | Mei 19, 2026

117

Batusangkar — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menghadirkan forum akademik internasional melalui kegiatan International Visiting Lecture dengan menghadirkan Guru Besar Bidang Tafsir Universitas Islam Madinah, Syekh Prof. Nayif Yusuf Al-Utaibi, Selasa (19/5/2026) di Aula FUAD Lantai II.

Hadir dalam kegiatan ini, Dekan FUAD Dr. Wahidah Fitriani, S.Psi., MA, Wakil Dekan Dr. Fadriati, M.Pd, Ketua Prodi IAT Dr. Fitri Yeni Dalil, Lc., M.ag, para dosen, serta mahasiswa IAT dan lintas program studi. Kuliah tamu internasional ini dipandu oleh dosen Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Dr. Muhammad Irfan, Lc., MA (doktor lulusan Al-Azhar Mesir di bidang tafsir).

Kedatangan Syekh Nayif disambuat antusias dan semangat tinggi oleh civitas akademika UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Dalam kuliahnya, Syekh Nayif membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam studi Al-Qur’an dan tafsir. Menurutnya, AI merupakan teknologi yang sangat membantu dalam menyediakan informasi secara cepat, termasuk dalam kajian Al-Qur’an, tafsir, dan ilmu-ilmu keislaman.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus disertai sikap kritis dan kehati-hatian akademik.

“AI bukanlah referensi utama, tetapi alat digital yang sangat membantu dan cepat dalam memberikan informasi,” tegas Prof. Nayif.

Ia menjelaskan bahwa AI terkadang dapat menghasilkan informasi yang kurang tepat, sehingga mahasiswa dan peneliti tetap harus melakukan verifikasi terhadap setiap jawaban dengan merujuk kepada sumber-sumber otentik dan kitab-kitab tafsir yang terpercaya.

Prof. Nayif juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai platform digital keislaman yang kredibel seperti Al-Maktabah Al-Syamilah, Dar Al-Manzhumah, serta jurnal-jurnal ilmiah keislaman sebagai penguat tradisi akademik Islam di era digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menggantikan otoritas ilmu dan ulama, tetapi justru harus dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam.

Kuliah internasional tersebut berlangsung interaktif dan dinamis. Para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia terkait perkembangan AI dan kaitannya dengan studi tafsir kontemporer.

Salah satu pertanyaan menarik disampaikan oleh mahasiswi IAT, Armia Pohan, mengenai kemungkinan lahirnya metode baru dalam bidang tafsir dengan bantuan AI. Menanggapi hal tersebut, Prof. Nayif menilai perkembangan metode tafsir baru sangat mungkin terjadi seiring perkembangan zaman dan teknologi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengembangan metode tafsir harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar ilmu tafsir dan merujuk kepada pandangan ulama salaf, khususnya para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Dekan FUAD, Dr. Wahidah Fitriani, turut mengangkat pertanyaan mengenai cara menumbuhkan kecintaan mahasiswa terhadap Al-Qur’an di tengah tantangan era digital.

Menjawab hal tersebut, Prof. Nayif memberikan pesan sederhana namun mendalam agar setiap Muslim membiasakan membaca Al-Qur’an minimal satu juz setiap hari.

“Kita sering mengatakan tidak punya waktu membaca Al-Qur’an, tetapi untuk HP kita selalu punya waktu satu hingga tiga jam sehari,” ungkapnya. Kegiatan International Visiting Lecture ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi akademik UIN Mahmud Yunus Batusangkar sekaligus memperkuat tradisi keilmuan Al-Qur’an dan tafsir yang adaptif terhadap perkembangan teknologi modern dan kecerdasan buatan di era digital. (HB/RCR)