Pilih Laman

Resmi Menyandang Gelar Sarjana, 105 Mahasiswa FUAD UIN MYBatusangkar Dikukuhkan pada Yudisium ke-10

oleh | Feb 20, 2026

145

Batusangkar — Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Mahmud Yunus Batusangkar melaksanakan Yudisium ke-10 Program Sarjana pada Jumat (20/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum akademik penting bagi 105 mahasiswa yang resmi dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana sesuai bidang keilmuannya masing-masing.
Penetapan kelulusan tersebut tertuang dalam Keputusan Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN Mahmud Yunus Batusangkar tentang Lulusan Program Sarjana Yudisium ke-10 Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026, yang ditetapkan pada 19 Februari 2026.
Sebanyak 105 mahasiswa dinyatakan lulus dari berbagai program studi di lingkungan FUAD, yaitu:

  • Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) – bergelar Sarjana Agama (S.Ag.)
  • Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
  • Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)
  • Pemikiran Politik Islam (PPI)
  • Jurnalistik Islam (JI) – bergelar Sarjana Sosial (S.Sos.)
  • Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) – bergelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP.)
  • Psikologi Islam (PSI) – bergelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Para Yudisi dikukuhkan langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Dr. Wahidah Fitriani, P.Si., M.A. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan awal dari tanggung jawab moral dan akademik di tengah masyarakat.
Beliau juga mengingatkan bahwa lulusan FUAD tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga identitas keilmuan yang berakar pada integrasi antara nilai-nilai keislaman, humaniora, dan dinamika sosial kontemporer. Dalam konteks dunia yang terus berubah, lulusan diharapkan mampu menjadi komunikator dakwah yang adaptif, intelektual yang kritis, serta agen perubahan yang solutif.
Dengan capaian 105 lulusan pada semester ganjil ini, FUAD kembali menunjukkan komitmennya dalam melahirkan sarjana yang kompeten secara akademik, matang secara spiritual, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Yudisium ini sekaligus menjadi refleksi atas proses panjang pendidikan tinggi: disiplin, ketekunan, dan kesabaran yang akhirnya bermuara pada pengakuan formal atas kompetensi ilmiah. Namun lebih dari itu, yang sedang dikukuhkan sejatinya adalah kesiapan memasuki arena sosial yang jauh lebih kompleks daripada ruang kuliah. (hospiburda)