
Bukittinggi — Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar terus berupaya memperkuat kualitas layanan akademik. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Workshop Penguatan & Peningkatan Penjaminan Mutu yang berlangsung, rabu-jumat (5–7/11/ 2025) di Hotel Santika Bukittinggi.
Kegiatan menghadirkan pakar penjaminan mutu nasional, Prof. Dr. Akna Hidayat, M.Sc, Guru Besar Bidang Analisis Kurikulum dan Teknologi Pembelajaran dari Universitas Negeri Padang (UNP) dan Ridho Indrayady, S.T., M.BA sekaligus menjadi momentum penting mendorong Pascasarjana menuju standar mutu nasional bahkan internasional.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Delmus Puneri Salim, Ph.D. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa peningkatan penjaminan mutu merupakan bagian penting dari komitmen UIN dalam menjaga kualitas akademik dan tata kelola perguruan tinggi.
“Penguatan penjaminan mutu bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan komitmen moral untuk memastikan seluruh proses akademik berjalan sesuai standar kualitas yang telah ditetapkan,” tegas Prof. Delmus.
Beliau juga berharap workshop ini mampu menghasilkan strategi konkret untuk memperkuat sistem penjaminan mutu, meningkatkan kualitas layanan akademik, serta memperkuat kolaborasi seluruh unsur civitas akademika.
Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya berkelanjutan dalam memperkuat tata kelola akademik Pascasarjana secara komprehensif.
“Melalui workshop ini, kita ingin memastikan bahwa seluruh komponen akademik mulai dari kurikulum, layanan pembelajaran, hingga penelitian berjalan sesuai standar mutu yang ditetapkan. Target kita jelas: peningkatan reputasi dan layanan yang lebih unggul,” ujar Prof. Marjoni.
Ia menegaskan bahwa Pascasarjana siap mengimplementasikan berbagai rekomendasi strategis yang dihasilkan dari workshop tersebut.

Prof. Dr. Akna Hidayat, M.Sc, sebagai narasumber pertama menekankan bahwa Sistem Penjaminan Mutu adalah jantung dari tata kelola perguruan tinggi. Poin penting yang ditekankan:
- Penjaminan mutu harus terintegrasi dalam seluruh proses akademik
- Dokumen mutu harus menjadi pedoman operasional, bukan sekadar arsip
- Akreditasi unggul dicapai melalui budaya mutu berkelanjutan
“Akreditasi bukan tujuan akhir. Yang utama adalah konsistensi menjalankan siklus peningkatan mutu,” jelas Prof. Akna.
Ia menegaskan, budaya mutu menjadi kekuatan untuk menghasilkan lulusan kompeten, program unggul, serta reputasi yang diakui.
Sedangkan narasumber kedua, Ridho Indrayady menyampaikan strategi implementasi kurikulum berbasis capaian pembelajaran (OBE) yang menekankan relevansi, fleksibilitas, dan adaptasi terhadap kebutuhan zaman. Adapun pokok gagasan yang ditonjolkan:
- Kurikulum harus selaras dengan kebutuhan industri & masyarakat
- OBE harus diterjemahkan dalam praktik pembelajaran
- Penguatan indikator mutu berbasis data dan dampak
- Tata kelola program studi harus responsif & berbasis evidence
“Kurikulum yang berdampak tidak hanya memenuhi standar dokumen, tetapi harus memberi nilai bagi mahasiswa, masyarakat dan dunia kerja,” terangnya.
Ridho menekankan bahwa penguatan penjaminan mutu akan optimal jika seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen bersama menjalankan standar mutu.
Workshop menghasilkan fokus tindak lanjut, termasuk penguatan budaya mutu, akselerasi riset, dan peningkatan jejaring nasional dan internasional.
Workshop Pascasarjana ini menjadi langkah strategis memperkuat mutu akademik, memperluas kolaborasi, dan mendorong terciptanya lulusan berprestasi yang siap berkontribusi bagi bangsa. (hospiburda)