Pilih Laman

Kisah Inspiratif Math Kotri; Mahasiswa Asal Kamboja Ini Meneteskan Air Mata Bahagia Saat Wisuda ke-57

oleh | Apr 24, 2025

113

Batusangkar- Ada yang berbeda dalam Wisuda ke-57 Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar yang digelar pada 15 April 2025 lalu. Di antara ratusan wisudawan, terselip satu nama yang mencuri perhatian karena semangat dan kisah perjuangannya yaitu Math Kotri, mahasiswa asal Kamboja dari Program Studi Megister Hukum Keluarga Islam.

Math Kotri bukanlah mahasiswa biasa, lahir pada 4 Februari 1990, Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia, dengan jurusan Syariah dan Undang-Undang (2011–2016). Namun, baru di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, ia merasakan sesuatu yang berbeda dan suasana yang menyentuh hati.

“Alhamdulillah, saya merasa sangat happy dan seronok hati luar biasa,” ungkap Kotri dengan mata berkaca-kaca. “Saya belum pernah dapat bergabung dalam majelis wisuda seperti ini sebelumnya. Wisuda di sini sangat bagus, sangat hebat. Ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan.” ujarnya

Baginya, bukan hanya ijazah yang dibawa pulang ke Kamboja. Tetapi juga kenangan hangat, penghargaan terhadap budaya lokal, serta rasa kekeluargaan yang kental dari civitas akademika UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Di tengah semarak adat dan religi yang berpadu harmonis, Kotri merasakan makna sejati dari pencapaian akademik dan sebuah pengakuan atas perjuangan panjang menuntut ilmu di negeri orang.

Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Dr. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D., menyampaikan bahwa kampus ini akan terus membuka pintu bagi mahasiswa internasional yang ingin menimba ilmu dengan semangat keislaman dan kebangsaan. “Kita tidak hanya mendidik, tapi juga merangkul. Mahasiswa asing seperti Math Kotri adalah duta keberagaman dan simbol kemajuan kampus kita menuju World Class University,” ujarnya dalam pidato wisuda. Kisah Math Kotri bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi tentang harapan, tekad, dan cinta terhadap ilmu yang tak mengenal batas geografis. Ia membuktikan bahwa ilmu adalah jembatan peradaban yang menyatukan hati, budaya, dan umat manusia dari penjuru dunia. (Hospiburda)