
Jakarta — Kehadiran Lembaga Akreditasi Mandiri Keagamaan (LAMGAMA) menandai babak baru dalam penguatan sistem penjaminan mutu Program Studi Rumpun Ilmu Agama (PSRIA) di Indonesia. Bagi UIN Mahmud Yunus Batusangkar, hadirnya lembaga akreditasi khusus rumpun keagamaan tersebut menjadi momentum penting untuk terus memperkuat budaya mutu, tata kelola akademik, dan kualitas program studi.
LAMGAMA resmi diperkenalkan melalui Grand Launching LAMGAMA yang digelar di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan tinggi keagamaan, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, BAN-PT, pimpinan perguruan tinggi, Kopertais, asosiasi program studi rumpun ilmu agama, hingga lembaga penjaminan mutu perguruan tinggi keagamaan.
Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar Prof. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D. menyambut positif hadirnya LAMGAMA sebagai langkah strategis dalam memperkuat mutu Program Studi Rumpun Ilmu Agama. Menurutnya, keberadaan lembaga akreditasi yang memahami karakteristik keilmuan keagamaan akan memberikan ruang yang lebih kuat bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan mutu akademik secara berkelanjutan.
“Kami menyambut baik kehadiran LAMGAMA. Bagi UIN Mahmud Yunus Batusangkar, penguatan mutu bukan hanya untuk memenuhi standar akreditasi, tetapi bagaimana standar tersebut menjadi bagian dari budaya akademik dan mendorong program studi terus berkembang. Kita ingin setiap proses akreditasi memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran, penelitian, tata kelola, dan lulusan,” ujar Prof. Delmus.
Prof. Delmus menambahkan, tantangan pendidikan tinggi keagamaan ke depan tidak hanya berada pada pemenuhan standar nasional, tetapi juga pada kemampuan program studi menunjukkan relevansi dan daya saing di tingkat global. Karena itu, penguatan mutu perlu berjalan seiring dengan inovasi akademik, riset yang berdampak, pengembangan jejaring, serta internasionalisasi perguruan tinggi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, menegaskan bahwa akreditasi tidak semestinya berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif. Akreditasi harus menjadi instrumen evaluasi dan peningkatan kualitas program studi secara berkelanjutan, termasuk dalam memperkuat tata kelola, relevansi pendidikan, serta kualitas lulusan.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi UIN MY Batusangkar yang terus mendorong penguatan mutu akademik dan kelembagaan. Budaya mutu perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pengembangan institusi, bukan hanya dipersiapkan ketika program studi menghadapi proses akreditasi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, menekankan pentingnya sinergi antara LAMGAMA, perguruan tinggi, pemerintah, asosiasi keilmuan, dan lembaga penjaminan mutu. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pelaksanaan akreditasi berlangsung profesional, objektif, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu. Ia juga berharap LAMGAMA dapat berkembang hingga memiliki kiprah di tingkat internasional.
LAMGAMA merupakan lembaga akreditasi mandiri yang secara khusus menangani akreditasi Program Studi Rumpun Ilmu Agama. Lembaga tersebut membawa visi menjadi lembaga akreditasi PSRIA yang kredibel, akseptabel, dan akuntabel, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
Pembentukan LAMGAMA sendiri melalui proses yang cukup panjang. Tahapannya dimulai dari pembentukan Taskforce LAM Keagamaan pada 2022, kemudian pembentukan Perkumpulan Ilmuwan Rumpun Ilmu Agama (PIRIA), pengesahan badan hukum pada 2024, hingga persetujuan penetapan sebagai Lembaga Akreditasi Mandiri Keagamaan pada 2025. Proses tersebut dilanjutkan dengan penguatan perangkat akreditasi, penilaian dan kunjungan lapangan oleh Majelis Akreditasi BAN-PT, serta persiapan sumber daya asesor pada 2026.
Dewan Eksekutif LAMGAMA, Ahmad Thib Raya, menegaskan bahwa Grand Launching tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menandai kesiapan LAMGAMA dalam menjalankan mandat akreditasi secara profesional.
Bagi UIN MY Batusangkar, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan peningkatan kualitas kelembagaan. Kehadiran LAMGAMA diharapkan dapat menghadirkan sistem akreditasi yang semakin sesuai dengan karakteristik keilmuan keagamaan sekaligus mendorong program studi untuk terus melakukan pembenahan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, akreditasi tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk memastikan program studi terus berkembang, adaptif, relevan, dan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi serta daya saing. UIN MY Batusangkar memandang penguatan mutu sebagai perjalanan berkelanjutan: memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas jejaring akademik, serta memastikan program studi rumpun ilmu agama tetap relevan di tengah perubahan pendidikan tinggi nasional dan tuntutan global (hospiburda)